Selasa, 27 September 2011

article


TUGAS  KELOMPOK
ANALISA USAHA MENEJEMEN PRODUKSI
USAHA LAUNDRY PAK ROJALI


DOSEN PENGAMPU
AGUS SETIADI.S.Pt,M.Si,PhD




Disusun Oleh :
                                                                NAMA                                        NIM
1.       MUCH. TURMUDI                                    10.61.0358
2.       DWI SUPRIYONO                                      10.61.0361
3.       SIDI NARBUKO                                           10.61.0369
4.       SRI WIDARTI                                               10.61.0374
5.       DEWI NOFA SARASWATI                       10.61.0378
6.       SRI WAHYUNINGSIH                              10.61.0379
7.       SUYATNO                                                    10.61.0380
8.       BASUKI                                                         10.61.0384          
                                               

PROGRAM  S2  MANAJEMEN
SEKOLAH  TINGGI  ILMU  EKONOMI  PARIWISATA  INDONESIA
STIEPARI  SEMARANG
2011

ANALISA USAHA MENEJEMEN PRODUKSI
USAHA LAUNDRY PAK ROJALI

I.                    PENDAHULUAN
Pak Rojali adalah Pegawai Negeri Sipil golongan III. Beliau memiliki tanggungan tiga anak semuanya putri. Beliau memiliki usaha pencucian baju ( Laundry ). Pada awal usaha Pak Rojali hanya sekedar sambilan saja. Selain untuk menambah uang jajan anak sekolah, beliau juga punya pemikiran untuk mendidik anak-anaknya punya tanggung jawab dan punya jiwa usaha.
Pak Rojali termasuk punya jiwa kepemimpin yang baik, terbukti beliau mampu menjalankan kegiatan itu hampir enam tahun disamping tugas utamanya sebagai abdi Negara. Sesungguhnya Pak Rojali pernah mencoba usaha lainnya tetapi dirasa usaha laundrylah yang punya prospek yang menjanjikan. Selain butuh modal yang terjangkau faktor resiko pun dipandang kecil.
Selama kurun watu tersebut menuangkan segala daya dan kemampuannya untuk tetap exis dan survive. Pak Rojali telah melakukan pengamatan usaha jasa laundry untuk memenangkan persainagn. Dengan segala kemampuan manajemen yang dimiliki beliau mempraktekannya secara langsung. Pada awal tahun, kegiatan usaha berjalan sangat lancar dan memperoleh keuntungan yang lumayan. Hal ini dikarenakan saat itu belum ada saingan usaha yang serupa. Tetapi setelah beberapa tahun kemuadian ternyata usaha ini dilirik dan diminati oleh sebagian tetangganya. Akibatnya, praktis keuntungan yang didapat mulai menurun.
Setelah beberapa tahun berjalan usahanya semakin mengalami penurunan. Hal ini disebabkan antara lain; gantinya tenaga ahli yang selama ini membantu Pak Rojali. Mbok Iyem cuti hamil dan digantikan oleh mbak Isah yang mempunyai pendidikan SD. Mbak Isah Kurangnya kemampuan mengoperasikan mesin cuci, menghitung kadar jumlah deterjen dan penggunaan air yang ceroboh berakibat mengurangi keuntungan. Yang lebih buruk lagi adalah tingkah laku mbak Isah yang pemarah dan kurang sopan terhadap pelanggan menyebabkan costumer enggan untuk datang.
Pada tahun 2008 usaha Pak Rojali semakin terpuruk dikarenakan kenaikan tarif dasar listrik dan Pam yang hampir bersamaan. Ditambah lagi dengan sering rusaknya mesin cuci karena aus mesin dan penyusutan nilai barang. Akibatnya anggaran perawatan mesin dan bengkel bertambah. Pelanggan banyak yang kecewa karena kebijakan menaikkan harga dan terlambatnya proses produksi. Banyak pelanggan yang komplin,pelanggan beralih ke laundry lain dan berakibat penurunan keuntungan.


II.                  MANAJEMEN PRODUKSI/OPERASI
Menejemen produksi yang dilakukan oleh Pak Rojali belum sepenuhnya dilakukan. Setelah kuliah di semarang, Pak Rojali mulai mempraktekkan ilmu menejemennya. Pak Rojali mulai menerapkan menejemen produksi dengan melakukan efisiensi produksi. Beliau memahami sepenuhnya bahwa ada dua factor yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi yaitu mengutamakan kepuasan konsumen dan menurunkan biaya dengan mengkatkan produktifitas.
Menejemen produksi sebelum krisis dianalisis dengan seksama dan ditemukan ada beberapa kelemahan dari menejemen produksi yang dilakukan sebelumnya:
1.      Produktifitas rendah.
Ø  Kegiatan operasi yang dilakukan oleh Pak Rojali masih menggunakan model manual. Mesin cuci yang dimiliki terhitung kecil, padahal banyak pelanggan yang meminta/ mengorder pembersihan korden, karbet dan sejenisnya. Seringkali order semacam itu ditolak sehingga pelanggan kecewa.
Ø  Penggunaan input/ barang seperti diterjen, air, listrik dll tidak dihitung secara baik. Tidak  dihitung unit yang diproduksi lebih kecil dari input yang digunakan.
Ø  Perlu pengadaan alat produksi pendukung, seperti janset ketika listrik mati. Dengan alat ini membatu aktifitas produksi, dalam keadaan tertentu kegiatan usaha tidak akan berhenti. Pemanfaatan energy matahari untuk mempercepat pengeringan dengan mendesain dan menginofasi ruang tempat cuci akan mengurangi pengunaan listrik , pemanfaatan air sumber (artetis ) untuk mendukung air PAM yang memiliki kapasitas kurang pada saat-saat tertentu. Penambahan penggunaan pewangi guna menambah nilai produk,dll.
Ø  Tidak ada inofasi usaha baru. Alterternatif produksi tambahan seperti usaha cuci sepeda motor, mobil atau semacamnya untuk menambah pendapatan.

2.      Penggunaan teknologi modern.
Ø  Pemanfaatan teknologi terbaru untuk memperkuat persaingan. Teknologi mesin cuci terbaru dengan kapasistas yang lebih besar lebih efisien dan menguntungkan.
Ø  Perbaikan strategi pemasaran.
Ø  Pemanfaatan komputer untuk menunjang menejemen usaha. Pembukuan dan keuangan di kelola secara baik dan memerlukan tim ahli.
Ø  Pemanfaatan media komunikasi untuk meningkatkan pelayanan, seperti pemesanan lewah sms/ via telephon.
Ø  Antar jemput

3.      Memperhatikan terhadap want dan need konsumen.
Ø  Peningkatan kwalitas produksi sebagai bentuk peningkatan kwalitas jasa.
Ø  Komunikasi yang intensif karyawan dengan pelangan, baik yang tetap maupun temporer.
Ø  Respon dan respek pelayanan atas segala keluhan dan kritik.
Ø  Peningkatan kwantitas marketing. Pemberian informasi yang sejelas-jelasnya terhadap pelayanan jasa yang ditawarkan.
Ø  Peningkatan kenyamana, dengan program guaranty produk yang rusak dsb.
4.      Tenaga kerja yang rendah.
Ø  Peningkatan Sumber Daya Manusia (pekerja). Dengan pelatihan dan peningkatan kemampuan dari pekerja dibarengi dengan kenaikan upah yang standar. Berupa UMR, tunjangan-tunjangan, bonus dll.
Ø  Perlakuan karyawan tidak sekedar pekerja tetapi bagian dari asset perusahaan.
Ø  Penambahan tenaga yang punya skill dan keahlian untuk mendukung kegiatan usaha.

III.                TENAGA KERJA
Peningkatan dalam kontribusi ketenagakerjaan pada produktivitas adalah hasil dari tenaga kerja yang sehat, berpendidikan dan terjamin kehidupannya. Karyawan yang ideal adalah tenaga kerja yang memiliki komitmen tinggi terhadap perusahaan, punya ketrampilan yang mendukung, kwalitas kesehatan yang obtimal.

Dalam melakukan usaha Pak Rojali mulai menyadari tentang arti penting karyawannya. Beliau juga mulai menambah karyawan baru, pemanfaatan tenaga ahli serta memperhatikan keperluan dasar karyawannya. Dengan demikian karyawan merasa dihargai dan punya semangat untuk bekerja dan akhirnya akan mendatangkan produktifitas.

Perhatian perusahaan yang baik seperti perbaikan pendapatan, rasa cinta kasih, hubungan kekeluargaan yang baik antar karyawan. Perhatian atasan terhadap kesulitan bawahan serta komunikasi yang intensif dalam menyelesaikan segala bentuk permaalahan. Dalam berbagai kesempatan diadakan pertemua-pertemuan, silaturahmi, pengeluaran santunan bagi anggota, pengadaan pelatihan-pelatihan dsb.

IV.                PERMODALAN

Berbicara tentang usaha berarti juga bicara tentang modal. Menurut perusahaan manufaktur di Amerika Serikat menyatakan bahwa; untuk dapat meningkatkan produktivitas sebesar 2,5 %, sumbangan dari variable modal sebesar 0,4%. Dengan kata lain untuk meningkatkan produktivitas usahanya maka harus meningkatkan factor permodalan untuk memenagkan persaingan usaha.
Usaha Pak Rojali mulai mengubah arah dari yang sifatnya sampingan menjadi usaha utama. Melihat prospek usaha dan keuntungan Pak Rojali bisa menjadikan usaha ini menjadi usaha yang mensejahterakan. Selain membuka peluang kerja juga menjadikan usaha ini menjadi kesempatan jadi pengusaha sukses.
Saat ini pembiayaan dengan Bank walaupun  masih relative kecil dimana pak Rojali sebatas untukpenyediaan persediaan Detergent, pewanggi dan sebagian untuk pembelian alat-alat pendukung kegiatan laundry nya.

V.                  ANALISIS EKONOMI
Berdasarkan wawancara kami secara lisan Bapak Rojali menyebutkan bahwa dalam usaha laundry miliknya beliau dalam setiap Kg Bapak Rojali mengeluarkan Rp.1.500,00  untuk biaya tetap  dan Rp.750,00 untuk biaya variabelnya

BEP (Q)                 =             TFC
                                                                                P/Unit-BV/Unit
4.000Q                  =             125.000+750Q
 4.000Q-750Q     =             125.000
Q                             =             125.000
3.250
Q                             =             38,5
Q/bln                    =             1.155 unit
Dalam sehari bapak rojali rata-rata  meproduksi 80 Kg dengan harga per Kg Rp.4.000,00  Dan inilah Laporan laba ruginya dan Neraca Keuangannya;

PENJUALAN                                                                                   Rp. 9.400.000,00
Harga Pokok Penjualan ( HPP )                                                     Rp.                 0,00
Laba Kotor                                                                                     Rp. 9.400.000,00
Biaya-biaya
Biaya Tetap Operasional
Sewa Tempat                    Rp.    500.000,00
Gaji Karyawan                   Rp. 2.700.000,00
Telepon / HP                     Rp.    150.000,00
Transportasi                      Rp.    400.000,00
Total Biaya Tetap                                      Rp. 3.750.000,00
Biaya Variabel Operasional
Detergent                          Rp.    500.000,00
Listrik dan Air                    Rp.    200.000,00
Plastik                                Rp.    100.000,00
Lain-lain                            Rp.    100.000,00
Total Biaya Variabel                                 Rp.    900.000,00
Total Biaya Operasional                                                               Rp. 4.650.000,00
Laba Sebelum Bunga dan Pajak                                                   Rp. 4.750.000,00
Bunga                                                                                            Rp.     100.000,00
Laba Setelah pembayaran bunga                                                 Rp. 4.650.000,00
Pajak                                                                                             Rp.    581.250,00
TOTAL PENDAPATAN BERSIH                                                       RP. 4.068.750,00


(Dalam Rupiah)
KETERANGAN
  NOMINAL
KETERANGAN
        NOMINAL
AKTIVA LANCAR

HUTANG LANCAR

Kas
 3.500.000 
Hutang Bank
        5.000.000
Bank

Hutang Dagang

Piutang
 1.600.000
Hutang Lain-lain

Inventori



Total Aktiva Lancar
 5.100.000
Total Hutang Jk Pendek         
        5.000.000




AKTIVA TETAP

          

Hutang  Jk Panjang

Tanah&Bangunan



Kendaraan
  4.500.000


Mesin-mesin
17.000.000
Modal
       15.781.250
Perlengk Usaha
  1.250.000
Laba ditahan
         3.000.000
Total Aktiva Tetap
22.750.000
Laba Berjalan
        4.068.750




Total Aktiva
27.850.000
Total Pasiva
       27.850.000
                                  


            Dari Laporan di atas bisa di lihat
                        Current Ratio             =          Total Aktiva Lancar
                                                Total Hutang Lancar
                                    =          5.100.000
                                    5.000.000
                              =          1,02


Rasio Solvabilitas        =          Jumlah Total Hutang
                                                Jumlah Total Aktiva                                             
                       
=            5.000.000
                                                27.850.000
                                    =          0,18


VI.                PEMASARAN ( MARKETING )

Pemasaran adalah pemegang kunci dan ujung tombak perusahaan. Adapun strategi pemasaran yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.      Pemanfaatan teknologi modern seperti :
a.      Iklan lewat radio
b.      Pengorderan lewat telepon, dengan sistim jemput-antar
c.       Pembuatan dan penyebaran brosur kerumah-rumah
2.      Pemasaran lewat kemitraan seperti :
Mendirikan sub agen dibeberapa daerah terjangkau, dengan sistim jemput-antar, dengan memasang baliho di tempat sub agen
3.      Pemasaran lewat karyawan,baik karyawan produksi maupun karyawan kusus sebagai marketing.

Karyawan kusus marketing inilah yang  mendapat ketrampilan dan kemampuan, bekal yang dipersiapkan untuk seorang marketing adalah :
a.      Membentuk marketing berjiwa pelayan, dengan prinsip pelayanan prima, artinya bahwa profesi marketing itu bertugas melayani orang lain sesuai dengan kebutuhan, sehingga muncul istilah * PELAYANAN PRIMA adalah PEMBERDAYAAN * dan menjadikan pelayanan prima sebagai budaya seorang marketing.
b.      Kesederhanaan dan kejelasan kepastian
Artinya proses pelayanan yang diberikan adalah mudah, cepat, tidak berbelit-belit dan mampu meyakinkan kenyamanan dan keamanan hasil laundry.
c.       Ekonomis
Artinya bahwa tarif laundry yang ditawarkan lebih murah dengan kwalitas pelayanan yang baik
d.      Memberikan pendidikan dan pelatihan yang merupakan faktor fundamental Artinya bahwa prinsip belajar merupakan proses yang tidak ada akhirnya dan tidak mengenal batas usia.
e.      Melatih secara kontinyu agar seorang marketing mampu berkomunikasi dengan baik sehingga dapat menciptakan kebutuhan.
                        Demikian setrategi pemasaran yang dilakukan, setelah usaha loundrynya Pak Rojali mengalami kemunduran, Dengan harapan usaha laundrynya mampu bangkit dan bersaing dengan pengusaha laundry lainnya




STUDI KELAYAKAN USAHA LOUNDRY SELAMA 5 TAHUN














TAHUN
INV
PENERIMAAN (Rp)
BIAYA (Rp)
PENYUSUTAN (Rp)
EBT (Rp)
PAJAK (Rp)
EAT (Rp)
PRO (Rp)
DF(10%)
PV PRO (Rp)
2011
22,750,000









2012

9,400,000
4,650,000
4,550,000
4,750,000
475,000
4,275,000
4,750,000
0.9091
4.318.225
2013

12,400,000
4,800,000
4,550,000
7,600,000
760,000
   .6,840,000
7,600,000
0.8265
6.281.400
2014

14,600,000
5,250,000
4,550,000
9,350,000
935,000
8,415,000
9,350,000
0.7513
7.024.655
2015

15,900,000
5,600,000
4,550,000
10,300,000
1.030,000
9.270,000
10,300,000
0.6830
7.034.900
2016

17,400,000
6,150,000
4,550,000
11,250,000
1.125,000
10.125,000
11,250,000
0.6209
6.985.125








JUMLAH PV PRO
31.644.305

ROI =                
               
ROI Tahun  2 =  4.275.000 : 22.750.000  X 100 %  =  18,79 %
ROI Tahun 3 =  6.840.000 : 22.750.000  X 100 %   = 30,07 %
ROI Tahun  4 =  8.415.000 : 22.750.000  X 100 %   = 36,99  %
ROI Tahun 5 =  9.270.000 : 22.750.000  X 100 %   =  40,75 %
ROI Tahun 6 =10.125.000 : 22.750.000  X 100 %   =   44,51 %


NPV = ΣPV PROCEEDS – JUMLAH INVESTASI
        = Rp 31.644.305 – Rp 22.750.000
        = Rp   8.894.305
PI / BC = ΣPV PROCEED/INVESTASI = 23.204.759/22.750.000
             = Rp 31.644.305 /  Rp 22.750.000  =  1,39

INVESTASI DIKATAKAN LAYAK  KARENA :
1.      ROI   = 171,11  % > SUKU BUNGA (10%)
2.      NPV =    Rp 8.894.305   (POSITIP)
3.      PI/BC =    1,39  (>1)












STUDI KELAYAKAN USAHA LOUNDRY SELAMA 5 TAHUN














TAHUN
INV
PEN
BIAYA
PENY
EBT
PAJAK
EAT
PRO
DF(10%)
PV PRO
2011
22,750,000









2012

9,400,000
4,650,000
4,550,000
4,750,000
475,000
4,275,000
4,750,000
0.9091
4,318,178
2013

10,400,000
4,800,000
4,550,000
5,600,000
560,000
5,040,000
5,600,000
0.8265
4,628,120
2014

11,600,000
5,250,000
4,550,000
6,350,000
635,000
5,715,000
6,350,000
0.7513
4,770,819
2015

12,900,000
5,600,000
4,550,000
7,300,000
730,000
6,570,000
7,300,000
0.6830
4,985,973
2016

13,400,000
6,150,000
4,550,000
7,250,000
725,000
6,525,000
7,250,000
0.6209
4,501,670








JUMLAH PV PRO
23,204,759