TUGAS KELOMPOK
ANALISA USAHA MENEJEMEN PRODUKSI
USAHA LAUNDRY PAK
ROJALI
DOSEN PENGAMPU
AGUS
SETIADI.S.Pt,M.Si,PhD
Disusun Oleh :
NAMA
NIM
1.
MUCH. TURMUDI 10.61.0358
2.
DWI SUPRIYONO 10.61.0361
3.
SIDI NARBUKO 10.61.0369
4.
SRI WIDARTI 10.61.0374
5.
DEWI NOFA SARASWATI 10.61.0378
6.
SRI WAHYUNINGSIH 10.61.0379
7.
SUYATNO 10.61.0380
8.
BASUKI 10.61.0384
PROGRAM S2 MANAJEMEN
SEKOLAH TINGGI
ILMU EKONOMI PARIWISATA
INDONESIA
STIEPARI SEMARANG
2011
ANALISA USAHA MENEJEMEN PRODUKSI
USAHA
LAUNDRY PAK ROJALI
I.
PENDAHULUAN
Pak Rojali adalah Pegawai Negeri Sipil golongan III.
Beliau memiliki tanggungan tiga anak semuanya putri. Beliau memiliki usaha
pencucian baju ( Laundry ). Pada awal usaha Pak Rojali hanya sekedar sambilan
saja. Selain untuk menambah uang jajan anak sekolah, beliau juga punya
pemikiran untuk mendidik anak-anaknya punya tanggung jawab dan punya jiwa
usaha.
Pak Rojali termasuk punya jiwa
kepemimpin yang baik, terbukti beliau mampu menjalankan kegiatan itu hampir
enam tahun disamping tugas utamanya sebagai abdi Negara. Sesungguhnya Pak
Rojali pernah mencoba usaha lainnya tetapi dirasa usaha laundrylah yang punya
prospek yang menjanjikan. Selain butuh modal yang terjangkau faktor resiko pun
dipandang kecil.
Selama kurun watu tersebut menuangkan
segala daya dan kemampuannya untuk tetap exis dan survive. Pak Rojali telah melakukan pengamatan usaha jasa laundry untuk
memenangkan persainagn. Dengan segala kemampuan manajemen yang dimiliki beliau
mempraktekannya secara langsung. Pada awal tahun, kegiatan usaha berjalan
sangat lancar dan memperoleh keuntungan yang lumayan. Hal ini dikarenakan saat
itu belum ada saingan usaha yang serupa. Tetapi setelah beberapa tahun
kemuadian ternyata usaha ini dilirik dan diminati oleh sebagian tetangganya. Akibatnya,
praktis keuntungan yang didapat mulai menurun.
Setelah beberapa tahun berjalan usahanya
semakin mengalami penurunan. Hal ini disebabkan antara lain; gantinya tenaga
ahli yang selama ini membantu Pak Rojali. Mbok Iyem cuti hamil dan digantikan
oleh mbak Isah yang mempunyai pendidikan SD. Mbak Isah Kurangnya kemampuan mengoperasikan
mesin cuci, menghitung kadar jumlah deterjen dan penggunaan air yang ceroboh
berakibat mengurangi keuntungan. Yang lebih buruk lagi adalah tingkah laku mbak
Isah yang pemarah dan kurang sopan terhadap pelanggan menyebabkan costumer enggan untuk datang.
Pada tahun 2008 usaha Pak Rojali semakin
terpuruk dikarenakan kenaikan tarif dasar listrik dan Pam yang hampir bersamaan.
Ditambah lagi dengan sering rusaknya mesin cuci karena aus mesin dan penyusutan nilai barang. Akibatnya anggaran perawatan
mesin dan bengkel bertambah. Pelanggan banyak yang kecewa karena kebijakan
menaikkan harga dan terlambatnya proses produksi. Banyak pelanggan yang komplin,pelanggan
beralih ke laundry lain dan berakibat penurunan keuntungan.
II.
MANAJEMEN PRODUKSI/OPERASI
Menejemen
produksi yang dilakukan oleh Pak Rojali belum sepenuhnya dilakukan. Setelah
kuliah di semarang, Pak Rojali mulai mempraktekkan ilmu menejemennya. Pak
Rojali mulai menerapkan menejemen produksi dengan melakukan efisiensi produksi.
Beliau memahami sepenuhnya bahwa ada dua factor yang harus dilakukan untuk
memperbaiki kondisi yaitu mengutamakan kepuasan konsumen dan menurunkan biaya
dengan mengkatkan produktifitas.
Menejemen
produksi sebelum krisis dianalisis dengan seksama dan ditemukan ada beberapa
kelemahan dari menejemen produksi yang dilakukan sebelumnya:
1. Produktifitas
rendah.
Ø Kegiatan operasi yang dilakukan oleh Pak Rojali masih
menggunakan model manual. Mesin cuci yang dimiliki terhitung kecil, padahal
banyak pelanggan yang meminta/ mengorder pembersihan korden, karbet dan
sejenisnya. Seringkali order semacam itu ditolak sehingga pelanggan
kecewa.
Ø Penggunaan input/ barang seperti diterjen, air, listrik
dll tidak dihitung secara baik. Tidak
dihitung unit yang diproduksi
lebih kecil dari input yang digunakan.
Ø Perlu pengadaan alat produksi pendukung, seperti janset
ketika listrik mati. Dengan alat ini membatu aktifitas produksi, dalam keadaan
tertentu kegiatan usaha tidak akan berhenti. Pemanfaatan energy matahari untuk
mempercepat pengeringan dengan mendesain dan menginofasi ruang tempat cuci akan
mengurangi pengunaan listrik , pemanfaatan air sumber (artetis ) untuk
mendukung air PAM yang memiliki kapasitas kurang pada saat-saat tertentu. Penambahan penggunaan
pewangi guna menambah nilai produk,dll.
Ø Tidak ada inofasi usaha baru. Alterternatif produksi tambahan
seperti usaha cuci sepeda motor, mobil atau semacamnya untuk menambah
pendapatan.
2. Penggunaan
teknologi modern.
Ø Pemanfaatan teknologi terbaru untuk memperkuat
persaingan. Teknologi mesin cuci terbaru dengan kapasistas yang lebih besar
lebih efisien dan menguntungkan.
Ø Perbaikan
strategi pemasaran.
Ø Pemanfaatan komputer untuk menunjang menejemen usaha.
Pembukuan dan keuangan di kelola secara baik dan memerlukan tim ahli.
Ø Pemanfaatan media komunikasi untuk meningkatkan
pelayanan, seperti pemesanan lewah sms/ via telephon.
Ø Antar
jemput
3. Memperhatikan
terhadap want dan need konsumen.
Ø Peningkatan kwalitas produksi sebagai bentuk peningkatan
kwalitas jasa.
Ø Komunikasi yang intensif karyawan dengan pelangan, baik
yang tetap maupun temporer.
Ø Respon dan respek pelayanan atas segala keluhan dan
kritik.
Ø Peningkatan kwantitas marketing.
Pemberian informasi yang sejelas-jelasnya terhadap pelayanan jasa yang
ditawarkan.
Ø Peningkatan kenyamana, dengan program guaranty produk
yang rusak dsb.
4. Tenaga
kerja yang rendah.
Ø Peningkatan Sumber Daya Manusia (pekerja). Dengan
pelatihan dan peningkatan kemampuan dari pekerja dibarengi dengan kenaikan upah
yang standar. Berupa UMR, tunjangan-tunjangan, bonus dll.
Ø Perlakuan karyawan tidak sekedar pekerja tetapi bagian
dari asset perusahaan.
Ø Penambahan tenaga yang punya skill dan keahlian untuk
mendukung kegiatan usaha.
III.
TENAGA KERJA
Peningkatan
dalam kontribusi ketenagakerjaan pada produktivitas adalah hasil dari tenaga
kerja yang sehat, berpendidikan dan terjamin kehidupannya. Karyawan yang ideal
adalah tenaga kerja yang memiliki komitmen tinggi terhadap perusahaan, punya
ketrampilan yang mendukung, kwalitas kesehatan yang obtimal.
Dalam
melakukan usaha Pak Rojali mulai menyadari tentang arti penting karyawannya.
Beliau juga mulai menambah karyawan baru, pemanfaatan tenaga ahli serta
memperhatikan keperluan dasar karyawannya. Dengan demikian karyawan merasa
dihargai dan punya semangat untuk bekerja dan akhirnya akan mendatangkan
produktifitas.
Perhatian
perusahaan yang baik seperti perbaikan pendapatan, rasa cinta kasih, hubungan
kekeluargaan yang baik antar karyawan. Perhatian atasan terhadap kesulitan
bawahan serta komunikasi yang intensif dalam menyelesaikan segala bentuk
permaalahan. Dalam berbagai kesempatan diadakan pertemua-pertemuan,
silaturahmi, pengeluaran santunan bagi anggota, pengadaan pelatihan-pelatihan
dsb.
IV.
PERMODALAN
Berbicara
tentang usaha berarti juga bicara tentang modal. Menurut perusahaan manufaktur
di Amerika Serikat menyatakan bahwa; untuk dapat meningkatkan produktivitas
sebesar 2,5 %, sumbangan dari variable modal sebesar 0,4%. Dengan kata lain
untuk meningkatkan produktivitas usahanya maka harus meningkatkan factor
permodalan untuk memenagkan persaingan usaha.
Usaha
Pak Rojali mulai mengubah arah dari yang sifatnya sampingan menjadi usaha
utama. Melihat prospek usaha dan keuntungan Pak Rojali bisa menjadikan usaha ini
menjadi usaha yang mensejahterakan. Selain membuka peluang kerja juga
menjadikan usaha ini menjadi kesempatan jadi pengusaha sukses.
Saat
ini pembiayaan dengan Bank walaupun
masih relative kecil dimana pak Rojali sebatas untukpenyediaan
persediaan Detergent, pewanggi dan sebagian untuk pembelian alat-alat pendukung
kegiatan laundry nya.
V.
ANALISIS EKONOMI
Berdasarkan
wawancara kami secara lisan Bapak Rojali menyebutkan bahwa dalam usaha laundry
miliknya beliau dalam setiap Kg Bapak Rojali mengeluarkan Rp.1.500,00 untuk biaya tetap dan Rp.750,00 untuk biaya variabelnya
BEP (Q) = TFC
P/Unit-BV/Unit
4.000Q = 125.000+750Q
4.000Q-750Q = 125.000
Q = 125.000
3.250
Q = 38,5
Q/bln = 1.155 unit
Dalam sehari bapak rojali rata-rata meproduksi 80 Kg dengan harga per Kg Rp.4.000,00
Dan inilah Laporan laba ruginya dan
Neraca Keuangannya;
PENJUALAN Rp.
9.400.000,00
Harga Pokok Penjualan ( HPP ) Rp. 0,00
Laba Kotor Rp. 9.400.000,00
Biaya-biaya
Biaya Tetap Operasional
Sewa Tempat
Rp. 500.000,00
Gaji Karyawan Rp. 2.700.000,00
Telepon / HP Rp. 150.000,00
Transportasi Rp. 400.000,00
Total Biaya Tetap Rp.
3.750.000,00
Biaya Variabel Operasional
Detergent Rp. 500.000,00
Listrik dan Air Rp. 200.000,00
Plastik Rp. 100.000,00
Lain-lain Rp. 100.000,00
Total
Biaya Variabel Rp. 900.000,00
Total Biaya Operasional Rp. 4.650.000,00
Laba Sebelum Bunga dan Pajak Rp. 4.750.000,00
Bunga Rp. 100.000,00
Laba Setelah pembayaran bunga Rp.
4.650.000,00
Pajak Rp. 581.250,00
TOTAL PENDAPATAN BERSIH RP. 4.068.750,00
(Dalam Rupiah)
|
KETERANGAN
|
NOMINAL
|
KETERANGAN
|
NOMINAL
|
|
AKTIVA LANCAR
|
|
HUTANG
LANCAR
|
|
|
Kas
|
3.500.000
|
Hutang
Bank
|
5.000.000
|
|
Bank
|
|
Hutang
Dagang
|
|
|
Piutang
|
1.600.000
|
Hutang
Lain-lain
|
|
|
Inventori
|
|
|
|
|
Total Aktiva Lancar
|
5.100.000
|
Total
Hutang Jk Pendek
|
5.000.000
|
|
|
|
|
|
|
AKTIVA TETAP
|
|
Hutang Jk Panjang
|
|
|
Tanah&Bangunan
|
|
|
|
|
Kendaraan
|
4.500.000
|
|
|
|
Mesin-mesin
|
17.000.000
|
Modal
|
15.781.250
|
|
Perlengk
Usaha
|
1.250.000
|
Laba
ditahan
|
3.000.000
|
|
Total
Aktiva Tetap
|
22.750.000
|
Laba Berjalan
|
4.068.750
|
|
|
|
|
|
|
Total Aktiva
|
27.850.000
|
Total Pasiva
|
27.850.000
|
Dari Laporan di atas bisa di lihat
Current Ratio = Total
Aktiva Lancar
Total
Hutang Lancar
= 5.100.000
5.000.000
= 1,02
Rasio Solvabilitas =
Jumlah Total Hutang
Jumlah
Total Aktiva
= 5.000.000
27.850.000
= 0,18
VI.
PEMASARAN ( MARKETING )
Pemasaran
adalah pemegang kunci dan ujung tombak perusahaan. Adapun strategi pemasaran
yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pemanfaatan
teknologi modern seperti :
a. Iklan lewat
radio
b.
Pengorderan
lewat telepon, dengan sistim jemput-antar
c.
Pembuatan dan
penyebaran brosur kerumah-rumah
2. Pemasaran
lewat kemitraan seperti :
Mendirikan sub agen dibeberapa
daerah terjangkau, dengan sistim jemput-antar, dengan memasang baliho di tempat
sub agen
3.
Pemasaran
lewat karyawan,baik karyawan produksi maupun karyawan kusus sebagai marketing.
Karyawan kusus marketing inilah yang mendapat ketrampilan dan kemampuan, bekal yang
dipersiapkan untuk seorang marketing adalah :
a. Membentuk marketing berjiwa pelayan, dengan prinsip
pelayanan prima, artinya bahwa profesi marketing itu bertugas melayani orang
lain sesuai dengan kebutuhan, sehingga muncul istilah * PELAYANAN PRIMA adalah
PEMBERDAYAAN * dan menjadikan pelayanan prima sebagai budaya seorang marketing.
b. Kesederhanaan
dan kejelasan kepastian
Artinya proses
pelayanan yang diberikan adalah mudah, cepat, tidak berbelit-belit dan mampu
meyakinkan kenyamanan dan keamanan hasil laundry.
c. Ekonomis
Artinya bahwa tarif laundry yang
ditawarkan lebih murah dengan kwalitas pelayanan yang baik
d. Memberikan pendidikan dan pelatihan yang merupakan faktor
fundamental Artinya bahwa prinsip belajar merupakan proses yang tidak ada
akhirnya dan tidak mengenal batas usia.
e. Melatih secara kontinyu agar seorang marketing mampu
berkomunikasi dengan baik sehingga dapat menciptakan kebutuhan.
Demikian setrategi
pemasaran yang dilakukan, setelah usaha loundrynya Pak Rojali mengalami
kemunduran, Dengan harapan usaha laundrynya mampu bangkit dan bersaing dengan
pengusaha laundry lainnya
|
|
|
STUDI
KELAYAKAN USAHA LOUNDRY SELAMA 5 TAHUN
|
|
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
TAHUN
|
INV
|
PENERIMAAN
(Rp)
|
BIAYA
(Rp)
|
PENYUSUTAN
(Rp)
|
EBT (Rp)
|
PAJAK
(Rp)
|
EAT (Rp)
|
PRO (Rp)
|
DF(10%)
|
PV PRO
(Rp)
|
|
2011
|
22,750,000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2012
|
|
9,400,000
|
4,650,000
|
4,550,000
|
4,750,000
|
475,000
|
4,275,000
|
4,750,000
|
0.9091
|
4.318.225
|
|
2013
|
|
12,400,000
|
4,800,000
|
4,550,000
|
7,600,000
|
760,000
|
.6,840,000
|
7,600,000
|
0.8265
|
6.281.400
|
|
2014
|
|
14,600,000
|
5,250,000
|
4,550,000
|
9,350,000
|
935,000
|
8,415,000
|
9,350,000
|
0.7513
|
7.024.655
|
|
2015
|
|
15,900,000
|
5,600,000
|
4,550,000
|
10,300,000
|
1.030,000
|
9.270,000
|
10,300,000
|
0.6830
|
7.034.900
|
|
2016
|
|
17,400,000
|
6,150,000
|
4,550,000
|
11,250,000
|
1.125,000
|
10.125,000
|
11,250,000
|
0.6209
|
6.985.125
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
JUMLAH
PV PRO
|
31.644.305
|
|
ROI =
ROI Tahun 2 =
4.275.000 : 22.750.000 X 100
% =
18,79 %
ROI Tahun 3
= 6.840.000 : 22.750.000 X 100 %
= 30,07 %
ROI Tahun 4 =
8.415.000 : 22.750.000 X 100 % = 36,99 %
ROI Tahun 5
= 9.270.000 : 22.750.000 X 100 %
= 40,75 %
ROI Tahun 6
=10.125.000 : 22.750.000 X 100 % = 44,51
%
NPV = ΣPV PROCEEDS – JUMLAH INVESTASI
= Rp 31.644.305 – Rp 22.750.000
= Rp
8.894.305
PI / BC = ΣPV PROCEED/INVESTASI = 23.204.759/22.750.000
= Rp 31.644.305 / Rp 22.750.000
= 1,39
INVESTASI
DIKATAKAN LAYAK KARENA :
1. ROI = 171,11
% > SUKU BUNGA (10%)
2. NPV = Rp 8.894.305 (POSITIP)
3. PI/BC
= 1,39 (>1)
|
|
|
STUDI
KELAYAKAN USAHA LOUNDRY SELAMA 5 TAHUN
|
|
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
TAHUN
|
INV
|
PEN
|
BIAYA
|
PENY
|
EBT
|
PAJAK
|
EAT
|
PRO
|
DF(10%)
|
PV PRO
|
|
2011
|
22,750,000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2012
|
|
9,400,000
|
4,650,000
|
4,550,000
|
4,750,000
|
475,000
|
4,275,000
|
4,750,000
|
0.9091
|
4,318,178
|
|
2013
|
|
10,400,000
|
4,800,000
|
4,550,000
|
5,600,000
|
560,000
|
5,040,000
|
5,600,000
|
0.8265
|
4,628,120
|
|
2014
|
|
11,600,000
|
5,250,000
|
4,550,000
|
6,350,000
|
635,000
|
5,715,000
|
6,350,000
|
0.7513
|
4,770,819
|
|
2015
|
|
12,900,000
|
5,600,000
|
4,550,000
|
7,300,000
|
730,000
|
6,570,000
|
7,300,000
|
0.6830
|
4,985,973
|
|
2016
|
|
13,400,000
|
6,150,000
|
4,550,000
|
7,250,000
|
725,000
|
6,525,000
|
7,250,000
|
0.6209
|
4,501,670
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
JUMLAH
PV PRO
|
23,204,759
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar